DOMPET SOSIAL MADANI

Memaknai Seperempat Abad DSM

Manusia menghadapi rangkaian perjalanan kehidupan. Lahir, tumbuh, mendapat ujian, nikmat, kemudian tinggal batu nisan. Ada batas biologis kehidupan. Takdir mengakhiri perjalanan manusia. Lalu bagaimana dengan organisasi. Eksistensi organisasi seperti perusahaan, institusi keagamaan, lembaga pendidikan dan negara relatif bertahan lebih lama ketimbang insan pendiri.

Dulu ada organisasi yang eksis, hari ini tinggal nama. Organisasi bersifat tidak berwujud (intangible), memiliki unsur seperti visi-misi, kebijakan, sistem, struktur, dan budaya. Organisasi mempunyai aset berwujud (tangible), diantaranya kantor, perlengkapan, dan armada, tetapi itu hanya sebagai komponen pendukung.

Organisasi ibarat pohon. Sebuah bibit ditanam, dipupuk, terus bertumbuh, menjulang tinggi, kemudian berakhir menurun, lalu tumbang. Cetak biru organisasi perlu dirancang untuk menjadi pijakan ke depan, sehingga organisasi tetap kokoh. Perencanaan strategis, manajemen risiko, ketepatan alokasi sumber daya, hingga pengembangan organisasi, jadi jalan ikhtiar memperkuat daya tahan lembaga.

Yayasan Dompet Sosial Madani Bali (DSM) adalah organisasi yang dibentuk untuk memberikan layanan dan mengelola sumber daya umat. Mulai dari zakat, infak, sedekah, dana sosial keagamaan lain (DSKL), wakaf, hingga Corporate Social Responsibility (CSR), disalurkan untuk kemaslahatan masyarakat. Lahir 25 Agustus 2001. Kini perjalanan DSM telah memasuki 25 tahun atau seperempat abad. Berbagai tantangan dan dinamika telah dilalui.

DSM memerlukan upaya pembaruan, beradaptasi dengan ekosistem sekitar. Di samping perbaikan tata kelola, ada hal yang tidak boleh hilang, yakni tujuan, nilai, dan dampak.Tujuan merupakan suatu harapan yang ingin wujudkan di masa depan. Nilai merupakan pedoman normatif dalam bersikap dan bertindak secara tepat. Dampak adalah manfaat nyata apa yang bisa dirasakan oleh masyarakat. Ketiga elemen tersebut menjadi kunci utama DSM dalam bekerja.

Dalam makna yang lebih inti, sebagaimana dalam perspektif Islam, organisasi semestinya selaras dengan tujuan manusia diciptakan. Organisasi dijalankan dengan niat dan tujuan menjalankan ibadah. Setiap aktivitas program yang dijalankan sarat dengan nilai-nilai ibadah. Organisasi menjadi wadah kepemimpinan yang mulia dan adil. Mengelola organisasi untuk menggerakkan perubahan dan meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Ditulis oleh Andy Krisna, S.Sos, M.A.P. | Ketua Yayasan Dompet Sosial Madani Bali

Ikuti Kami