DOMPET SOSIAL MADANI

Cikal Bakal DSM Bali

Bali pada tahun 2001 masih menyuguhkan wajah yang berbeda dari hari ini. Jalan By Pass Ngurah Rai relatif lengang. Perjalanan dari Denpasar menuju Bandara Ngurah Rai terasa lancar, sementara kawasan Kuta dan Legian belum sepadat sekarang. Sepanjang perjalanan menuju Tanah Lot, hamparan persawahan subak masih mudah dijumpai. Pesisir Sanur hingga Nusa Dua pun masih banyak dihiasi pepohonan, dengan jumlah hotel, vila, dan kafe yang belum sebanyak saat ini.

Di tengah suasana Bali yang tenang itu, sebuah gerakan kecil penuh kepedulian mulai tumbuh di salah satu sudut Kota Denpasar.

Gerakan tersebut berawal dari sejumlah pegawai di lingkungan Departemen Keuangan di Denpasar—antara lain dari kantor Pajak, BAKUN, dan BPKP—yang secara rutin menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk membantu sesama. Tidak ada program besar, kantor yang megah, ataupun organisasi dengan banyak pegawai. Semuanya berangkat dari satu niat sederhana: menyisihkan sebagian rezeki agar dapat meringankan kehidupan orang lain.

Setiap bulan, sejumlah PNS muslim mengumpulkan dana sosial yang berasal dari zakat, infak, dan sedekah. Sebagian dana lainnya berasal dari pemberian atau ungkapan terima kasih yang diterima dari masyarakat dan wajib pajak. Dana yang terkumpul kemudian disalurkan kepada keluarga kurang mampu, anak-anak yatim, kegiatan sosial keagamaan, serta pembangunan fasilitas yang dibutuhkan masyarakat.

Dari bulan ke bulan, kepedulian itu terus tumbuh. Semakin banyak dana yang dipercayakan, semakin luas pula manfaat yang dapat diberikan. Para penggagasnya kemudian menyadari bahwa kebaikan yang semakin besar membutuhkan wadah yang lebih baik: sebuah lembaga yang mampu mengelola amanah masyarakat secara tertib, profesional, transparan, dan berkelanjutan.

Dari kesadaran itulah kemudian lahir sebuah yayasan sosial.

Pada Sabtu, 25 Agustus 2001, bertepatan dengan 6 Jumadil Akhir 1422 H, sejumlah pegawai Departemen Keuangan mendirikan Yayasan Dompet Sosial Muslim Bali (DSM Bali). Pendirian tersebut tercatat dalam Akta Notaris I Putu Chandra, S.H. Nomor 187 tanggal 25 Agustus 2001.

Tanggal itu menjadi penanda dimulainya perjalanan panjang DSM Bali.

Pada masa awal, kiprah DSM masih sangat sederhana. Layanannya terutama memfasilitasi kepedulian para pegawai di lingkungan perkantoran. Struktur pengelolaannya pun sangat ramping. Hanya ada seorang tenaga operasional, seorang pemuda yang baru menyelesaikan pendidikan tinggi bernama R. N. Aksanu Takwim, S.T. Dengan sarana yang terbatas, ia menjalankan salah satu tugas utama DSM saat itu: mendatangi perkantoran untuk menjemput zakat dan donasi yang telah dihimpun.

Salah satu pendiri yang aktif mengembangkan operasional lembaga adalah Saifuzzuhri, S.E., seorang PNS di kantor pajak. Di tengah kesibukan pekerjaan masing-masing, para pendiri lainnya turut mengambil peran dengan membuka jaringan donatur, memperkenalkan DSM kepada masyarakat, serta membangun hubungan dengan tokoh-tokoh Muslim di Bali.

Perlahan, kepercayaan mulai tumbuh.

DSM kemudian diperkenalkan kepada berbagai tokoh dan lembaga Islam di Bali, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali. Pada masa awal perkembangannya, DSM memperoleh surat rekomendasi dari MUI Provinsi Bali sebagai bentuk dukungan terhadap pelayanan dan pengelolaan zakat yang dijalankan di Bali.

Perjalanan DSM juga tidak langsung dimulai dari sebuah kantor yang mapan. Kantor pertama bahkan masih menumpang di tempat salah seorang pendiri. Setelah itu, DSM mendapatkan pinjaman tempat dari seorang donatur di kawasan Puri Perumahan Waturenggong, Denpasar. Seiring perkembangan aktivitas lembaga, DSM kemudian mulai menyewa sebuah ruko di Jalan Tukad Pakerisan 70X, Panjer, Denpasar.

Dari kantor yang sederhana, tenaga yang terbatas, serta jaringan yang pada mulanya hanya berada di sekitar lingkungan perkantoran, sebuah perjalanan besar perlahan dimulai.

DSM Bali lahir bukan dari kelimpahan sumber daya, melainkan dari kepedulian. Bukan dari sebuah lembaga besar, melainkan dari kebiasaan sederhana sejumlah orang untuk menyisihkan sebagian rezekinya bagi mereka yang membutuhkan.

Dari zakat, infak, dan sedekah yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, tumbuh sebuah kepercayaan. Dari kepercayaan itu lahir sebuah lembaga. Dan dari lembaga itulah, perjalanan untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat Bali dan berbagai wilayah lainnya terus berlanjut hingga hari ini.

Ikuti Kami