
JEMBRANA — Dompet Sosial Madani (DSM) Bali bersama Kementerian Agama Kabupaten Jembrana dan kelompok binaan memanen ikan nila hasil program pemberdayaan Kampung Zakat di Desa Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, Senin (29/9/2026).
Budidaya ikan nila tersebut dikembangkan sebagai salah satu usaha produktif untuk membantu meningkatkan kesejahteraan guru ngaji dan pengajar pesantren di Melaya. Lokasi budidaya berada di belakang MTs Al-Mubarok, di sebelah barat kawasan Hutan Cekik.
Program ini merupakan bagian dari pendampingan Kampung Zakat melalui kolaborasi DSM Bali dan Kemenag Jembrana. Selain memperoleh tambahan penghasilan, para penerima manfaat didorong memanfaatkan waktu luang seusai mengajar untuk mengembangkan usaha produktif.
Budidaya ikan nila dikelola secara berkelompok oleh tujuh orang dengan memanfaatkan tiga kolam. Para anggota berbagi tugas secara bergiliran, mulai dari memberi pakan, merawat ikan, hingga memastikan kondisi air tetap mendukung pertumbuhan ikan.
Panen dilakukan secara bertahap pada masing-masing kolam. Dari kolam pertama, kelompok berhasil memanen sekitar 70 kilogram ikan nila. Sementara itu, kolam kedua menghasilkan sekitar 13 kilogram.
Meski hasil panen antar-kolam belum merata, budidaya pada tahap awal ini telah mampu menutup modal yang dikeluarkan. Hasil tersebut sekaligus menjadi bahan pembelajaran bagi kelompok untuk memperbaiki pola budidaya pada periode berikutnya.
Tim DSM Bali melakukan evaluasi bersama kelompok setelah panen. Sejumlah aspek dinilai masih perlu diperbaiki, terutama ketersediaan pakan alternatif, pengelolaan kualitas air, serta proses penyortiran ikan.
Air yang digunakan untuk mengisi kolam berasal dari sumber pegunungan dan dinilai masih membutuhkan sistem penyaringan yang lebih baik. Selain itu, penyortiran ikan perlu dilakukan secara berkala, sekitar dua bulan sekali, untuk memisahkan ikan berdasarkan ukuran dan tingkat pertumbuhannya.
Penyortiran tersebut diharapkan membuat ikan yang telah mencapai ukuran konsumsi dapat dipanen lebih dahulu. Dengan demikian, ikan berukuran lebih kecil memiliki ruang dan pakan yang lebih memadai untuk tumbuh hingga mencapai ukuran panen.
Evaluasi juga diarahkan pada pemanfaatan pakan alternatif untuk membantu menekan biaya produksi tanpa mengurangi kualitas pertumbuhan ikan. Perbaikan pada aspek pakan, kualitas air, dan manajemen pemeliharaan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kolam pada siklus berikutnya.
Bagi para guru ngaji yang terlibat, budidaya ikan nila bukan sekadar kegiatan tambahan setelah mengajar. Program ini menjadi proses belajar membangun usaha bersama yang membutuhkan kedisiplinan, kesabaran, dan ketekunan.
Melalui pendampingan berkelanjutan, DSM Bali dan Kemenag Jembrana berharap budidaya ikan nila di Kampung Zakat Melaya dapat berkembang menjadi sumber penghasilan tambahan yang berkelanjutan bagi guru ngaji dan pengajar pesantren.
Ikhtiar merawat ikan dilakukan dari hari ke hari, sementara doa menyertai setiap prosesnya. Dari kolam sederhana di Melaya, tumbuh harapan agar usaha produktif ini dapat ikut memperkuat kemandirian dan kesejahteraan para guru ngaji. (aka)


