DOMPET SOSIAL MADANI

Memahami Diri, Memperkuat Produktivitas Tim

Perbedaan cara berpikir, bekerja, dan berkomunikasi merupakan keniscayaan dalam sebuah organisasi. Seseorang dapat bergerak cepat ketika menghadapi persoalan, sementara anggota tim lainnya membutuhkan data dan pertimbangan lebih panjang sebelum mengambil keputusan. Ada pula yang lebih peka terhadap relasi antarmanusia, sementara sebagian lainnya gemar melahirkan gagasan baru.

Ketika perbedaan tersebut tidak dipahami, gesekan mudah muncul dan pada akhirnya dapat berkembang menjadi konflik yang menghambat kerja bersama. Kajian mengenai dinamika tim juga menunjukkan bahwa konflik, terutama yang menyentuh hubungan interpersonal, dapat berkaitan dengan menurunnya efektivitas dan kinerja tim.

Kesadaran itulah yang mendorong Dompet Sosial Madani (DSM) Bali memfasilitasi para amil untuk mengenali potensi dan kecenderungan diri melalui tes STIFIN. Bagi DSM, kegiatan ini ditempatkan sebagai salah satu sarana refleksi untuk membuka percakapan tentang perbedaan individu dalam tim.

Pemahaman terhadap diri sendiri dan rekan kerja diharapkan membantu amil menemukan cara berkomunikasi, berkolaborasi, serta membagi peran dengan lebih baik. Dalam pekerjaan sosial dan pengelolaan zakat yang menuntut interaksi intensif dengan muzaki, mustahik, mitra, serta sesama amil, kemampuan memahami perbedaan tersebut menjadi penting.

STIFIN merupakan konsep yang mengelompokkan kecenderungan individu ke dalam lima kategori yang disebut “mesin kecerdasan”, yakni Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting. Menurut pengembang STIFIN, identifikasi dilakukan melalui pemindaian kesepuluh sidik jari (yang kemudian digunakan untuk menentukan sistem operasi otak yang dianggap dominan dan “personaliti genetik” seseorang. Dalam kerangka ini, setiap kategori dipandang mempunyai kecenderungan khas yang dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali kekuatan seseorang.

Dalam terminologi STIFIN, Sensing digambarkan sebagai pribadi yang konkret, praktis, rajin, dan kuat dalam mengingat pengalaman maupun fakta. Dorongan terhadap hasil yang nyata dapat menjadi salah satu sumber motivasinya. Thinking, sebaliknya, digambarkan lebih mengandalkan logika, analisis, data, dan pertimbangan rasional sebelum menentukan keputusan. Dalam organisasi, kecenderungan seperti ini dapat terlihat pada ketelitian menyusun rencana, mengolah informasi, atau memastikan sebuah keputusan memiliki dasar yang memadai.

Adapun Feeling dalam konsep STIFIN digambarkan kuat dalam membangun hubungan, komunikasi, empati, dan suasana harmonis dengan orang lain. Sementara Intuiting diasosiasikan dengan imajinasi, kreativitas, gagasan, serta orientasi terhadap kemungkinan-kemungkinan baru di masa depan.

Insting digambarkan lebih spontan, adaptif, serta mampu merespons beragam situasi secara cepat. Perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi dasar untuk menilai bahwa satu tipe lebih baik dibandingkan tipe lainnya. Dalam kerja tim, justru keragaman cara melihat persoalan dapat menjadi kekuatan apabila mampu dikelola secara tepat.

Namun, penggunaan instrumen pemetaan individu di lingkungan kerja tetap memerlukan kehati-hatian. Klaim hubungan antara pola sidik jari dan karakter atau kemampuan psikologis masih memerlukan dukungan penelitian yang lebih kuat dan konsisten. Sejumlah penelitian dermatoglifi memang menemukan asosiasi tertentu antara pola sidik jari dengan variabel psikologis atau kecerdasan, tetapi temuan yang tersedia masih terbatas pada populasi tertentu dan belum cukup untuk menjadikan sidik jari sebagai alat tunggal dalam menentukan kepribadian, kemampuan, maupun kesesuaian seseorang dengan suatu pekerjaan.

American Psychological Association (APA) juga menekankan bahwa instrumen asesmen untuk kepentingan pekerjaan semestinya memiliki bukti reliabilitas, validitas, dan fairness yang memadai serta sesuai dengan tujuan penggunaannya. Karena itu, bagi DSM, hasil pemetaan semacam ini akan lebih bermanfaat apabila diperlakukan sebagai bahan refleksi dan percakapan, bukan sebagai label permanen terhadap seorang amil.

Seseorang yang dikategorikan sebagai Thinking, misalnya, tidak berarti hanya cocok mengerjakan pekerjaan analitis. Demikian pula Feeling tidak selalu harus ditempatkan pada fungsi komunikasi. Kompetensi kerja dibentuk oleh banyak unsur: pengetahuan, pengalaman, karakter, keterampilan, motivasi, lingkungan kerja, hingga kesempatan untuk belajar. Praktik asesmen yang baik pun dianjurkan menggunakan berbagai sumber informasi, bukan bergantung pada satu instrumen semata.

Pada akhirnya, tujuan mengenali potensi diri bukanlah memasukkan manusia ke dalam kotak-kotak kepribadian, melainkan membuka ruang untuk saling memahami. Ketika seorang amil mengetahui bahwa rekannya membutuhkan data lebih lengkap sebelum mengambil keputusan, gemar berdiskusi sebelum bekerja, atau justru lebih produktif ketika diberi ruang mengembangkan gagasan, perbedaan tidak lagi harus dipandang sebagai hambatan.

Di situlah pemahaman diri menemukan relevansinya: bukan sekadar mengetahui “siapa saya”, tetapi belajar mengenai bagaimana saya dapat bekerja bersama orang yang berbeda dengan saya. Bagi DSM, budaya saling memahami inilah yang pada akhirnya diharapkan memperkuat kolaborasi, menjaga keharmonisan tim, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Ikuti Kami