Terik matahari membuat mata ingin terus terpejam. Siang itu, satu per satu undangan masuk ke gedung yang tampak masih belum selesai sentuhan akhir. Bangunan baru di atas tanah wakaf, terdiri tiga lantai. Dinding masih gelap, belum ada cat eksterior dan interior. Ruangan pengap, membuat keringat mengucur deras.
Suasana panas, tidak mengurangi keakraban. Saling sapa bersalaman, dan bercerita. Tidak lama lantunan adzan dhuhur berkumandang. Diikuti oleh suara iqomah. Sholat jamaah ditunaikan di lantai satu. Usai sholat dhuhur, ada sosok Ustadz menunaikan sholat jamak qasar, bersama jamaah lain.
Paras wajahnya tajam, dibalut senyum, seolah memancarkan cahaya. Teduh dan penuh ketenangan. Ustadz Muhammad Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan, dai asal Papua Barat, mengisi safari dakwah yang diadakan oleh Nazhir Wakaf Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali.

Sambil menanti acara dimulai, undangan menikmati sajian soto Cak Man. Kuliner gerobak sederhana, hangat dan nikmat, menjadi teman diskusi antar tokoh umat Islam se-Bali. Peserta undangan terus berdatangan, meski tidak sampai memenuhi ruangan.
Safari dakwah ini bertemakan “Kembalikan manusia menjadi hamba menyembah Allah”. Di awal ceramah beliau sampaikan, Gedung MUI ini, belum ada AC, kehadiran kita menyelesaikan bangunan MUI Bali. Sentral rumah umat Islam di Bali.
“Apakah kami layak masuk neraka, karena kami NKRI?” Orang Islam bertanggungjawab mengenalkan indahnya Islam, demikian tegas Ustadz yang pernah ditombak oleh kepala suku Papua. Sejak kuliah Ustadz Fadlan telah bertekad mewakafkan diri untuk dakwah. Dengan suara lantang dan penuh senyum, beliau menyebut dirinya sebagai Pegawai Nabi Sallallahualaihiwassalam (PNS).

Tugas PNS hanya satu, mengembalikan manusia untuk menyembah Allah. Beliau seorang diri memutuskan untuk masuk ke pedalaman Papua. Apa tidak takut sendiri? Nabi besar Muhammad, awalnya seorang diri berdakwah di mekah. Berulang kali beliau diminta menjadi pegawai negeri. Tetap berpegang teguh menjadi dai. Menyampaikan dakwah dengan penuh kasih sayang. Hasilnya seorang pendeta masuk islam. Lalu beliau dipenjara selama tiga bulan. Penjara tidak menyurutkan Langkah dakwah, dengan izin Allah, 125 orang di penjara masuk Islam.
Dakwah itu seperti air, mengalir membasahi bumi yang kering kerontang. Di awal dakwah beliau ditombak, kena betis. Inilah konsekuensi dakwah. Rasulullah tumitmya berdarah saat dakwah di Taif. Kita berdakwah, bukan berperang. Jangan membenci manusia. Di kemudian hari, kepala suku yang menombak Ust Fadlan sakit malaria, sementara tidak memiliki biaya, maka beliau membantu, kemudian sembuh. Tidak lama kepala suku beserta anggota suku masuk Islam.
Beliau beberapa kali masuk penjara, karena melakukan pembinaan. Sampai petugas penjara bertana, kenapa anda tidak takut dipenjara. Anda orang hebat ucap petugas. Kemudian Ust Fadlan diminta cerita tentang Islam, akhirnya petugas penjara masuk Islam. Membuat orang mengenal Allah, maka semakin banyak kemudahan. Pernah dakwah ke tempat jauh, agar tidak ditangkap, hanya membawa sampo, pasta gigi, sikat gigi. Di daerah pegunungan ada yang mayoritas muslim, disekolahkan hingga kuliah, agar anak-anak muslim, menguasai birokrasi di Papua.
Gunakan konsep terbaik, menyelamatkan mereka dan membawa mereka ke jalan Allah swt. Jangan mengharapkan pujian atau tepuk tangan manusia. Ustadz Fadlan membangun Ponpes khusus, di jawa, dari Papua, sehingga anak-anak lebih fokus untuk belajar dan berkembang. Anak-anak Papua, bangga menjadi anak Indonesia, membangun Indonesia.
Tidak boleh membenci atau mencaci orang, sembalah Allah, jalan akan jadi baik. Alhamdulillah hari ini ada anak-anak Papua masuk Akpol dan Akmil.
Ketika Ust Fadlan ditanya tentang Maryam menyembah siapa? Maryam menyembah Allah. Di Rahim Allah menitipkan anaknya, Nabi Isa. Maryam diabadikan dalam Al-Qur’an. Anaknya menymbah dan berdoa kepada Allah.

Dakwah membawa perubahan iman, memberdayakan masyarakat Papua, ternak kambing dan sapi. Kepala suku mengelola lahan 1500 hektar, menjadi kampung Islam. Suku mualaf dikumpulkan, kemudian dibangun pusat ekonomi. Hubungan ekonomi antara pedalaman dan kota lancar, kendaraan untuk mengangkut hasil tani dan ternak. Pertanian menghasilkan vanila terbaik.
Semoga semakin banyak penerus dakwah di pedalaman Papua, menikah dengan anak kepala suku. Dari lantunan adzan subuh, Allah selamatkan Indonesia, demikian harapan besar Ust Fadlan. (Tim DSM)