Suara mesin ambulans laut itu menderu, membelah sunyi perairan utara Bali di tengah malam yang buta. Di dalamnya, Lilik Suryati mengerang. Perempuan 35 tahun itu tak lagi mampu mengenali arah. Tubuhnya yang tengah mengandung tujuh bulan didera kejang hebat; otot-ototnya kaku, sementara sisa muntah masih membekas di sudut bibirnya.
Bagi warga Pulau Sapeken, Madura, laut adalah urat nadi sekaligus tembok raksasa. Ketika fasilitas medis di pulau tak lagi sanggup membendung komplikasi kehamilan kelima Lilik, hanya ada satu jalan keluar: menantang ombak menuju Singaraja, Buleleng, Bali. Delapan jam lamanya, Lilik terombang-ambing di atas tandu sempit dalam kabin kapal yang pengap. Setiap hantaman ombak pada lambung kapal seolah menjadi detak jam yang menghitung taruhan nyawa ibu dan janinnya.

Setibanya di daratan Singaraja, drama berpindah ke ruang operasi. Pisau bedah menjadi satu-satunya jembatan keselamatan. Seorang bayi mungil lahir prematur, bobotnya hanya 1,5 kilogram—tak lebih berat dari tiga botol air mineral. Kini, keduanya terpisah oleh sekat dinding rumah sakit: sang ibu di ruang ICU yang dingin, dan sang bayi di dalam kotak kaca inkubator yang hangat oleh lampu-lampu neon.
Di koridor rumah sakit, Rahman hanya bisa menatap lantai. Pria yang sehari-hari akrab dengan jaring dan kemudi perahu ini kini kehilangan pegangan. Sebagai nelayan, tangannya adalah mesin uang bagi empat anaknya yang menunggu di rumah. Namun, sejak ia memutuskan mengawal istrinya menyeberang lautan, perahunya tertambat bisu di Sapeken. Tak ada ikan yang bisa ditarik, tak ada rupiah yang bisa dibawa pulang. BPJS memang menjamin biaya medis, namun urusan perut dan biaya hidup di tanah rantau adalah lubang hitam yang siap menelan sisa-sisa ketabahannya.

Langkah kecil diambil Dompet Sosial Madani (DSM) Bali hari ini. Di tengah keriuhan Singaraja, sebuah bantuan diserahkan untuk menyambung napas harian Rahman. Sebuah upaya kecil untuk memastikan bahwa seorang ayah yang baru saja bertaruh nyawa di tengah laut, tidak harus pulang dengan tangan hampa. (Tim DSM)
Mari berbagi untuk ibu hamil di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) bersama DSM