Frasa popular ini sering lewat di beranda media sosial. Hari apes tidak ada di kalender. Bermakna musibah dapat terjadi kapan, di mana, dan akan menimpa siapa saja. Pernyataan ini ada benarnya, dalam sudut pandang agama disebut takdir. Namun sebelum malapetaka menimpa, manusia punya kesempatan ikhtiar untuk mencegah.
Bencana banjir yang terjadi pada pada 26 November 2025 lalu, telah merusak wilayah Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Dengan korban meninggal dunia mencapai 1.198 jiwa dan 242.174 jiwa mengungsi. Kejadian ini membuat layanan publik, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi lumpuh.

Air bercampur Lumpur, bongkahan tanah, kayu, menerjang dari lereng Bukit Barisan ke areal lebih rendah. Pemukiman penduduk, tempat ibadah, jembatan, dan infrastruktur jalan rusak parah. Bencana tidak semata terjadi karena faktor alam. Kondisi ekologis Sumatra terus menurun, akibat pembukaan lahan.
Para ahli telah memperingatkan adanya potensi bencana ekologis, akibat deforestasi dalam skala besar. Bencana ekologis timbul, akibat kegiatan manusia yang mengusik keseimbangan lingkungan. Hutan yang gundul tidak mampu lagi menahan debit air hujan skala besar. Hujan lebat menjadi galodo (banjir bandang). Perubahan iklim kian memperparah dampak bencana.

Lebih dari dua bulan, kondisi rumah warga masih terendam lumpur. Kebutuhan air bersih masih mengandalkan distribusi. Bahu-membahu warga, relawan, swasta, dan pemerintah secara bertahap membantu pemulihan Sumatra. Aktivitas belajar mengajar di sejumlah tempat mulai berjalan, meski belum merata. Kini Sumatra akan menyambut Ramadhan.
Pemulihan secara kolaboratif dibutuhkan Sumatra. Namun ada yang lebih berharga ke depan, bagaimana kesadaran ekologis bisa dibangun. Keuntungan aksi korporasi, mengekspoitasi hutan secara berlebih, tidak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan. Kebijakan perlu berpihak pada tata kelola lingkungan yang seimbang.

Keberadaan hutan secara sakral, semestinya dipandang sebagai makhluk ciptaan tuhan yang perlu dijaga. Merusak alam pada hakikatnya merusak ciptaan tuhan. Pertanda kadar spiritualitas sedang melemah. Allah telah memberi peringatan bagi perusak lingkungan, dalam surat Al-A’raf ayat 56;
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.”
Ramadhan menjadi momen bersama, untuk meningkatkan kesadaran ekologis. Bukan merusak, tapi membangun, melestarikan alam, agar menjadi lebih bermanfaat bagi manusia dan alam semesta.
Andy Krisna, S.Sos, M.A.P. | Ketua Yayasan Dompet Sosial Madani Bali