Setiap pagi, anak-anak itu berangkat sekolah dengan seragam sederhana. Tas mereka tak selalu baru, sepatu pun kadang sudah menipis solnya. Orang tua mereka memilih sekolah negeri bukan tanpa alasan—biayanya lebih terjangkau, jaraknya dekat, dan itulah pilihan paling realistis di tengah penghasilan yang pas-pasan sebagai buruh dan pekerja sektor informal.
Namun, di balik kesederhanaan itu, ada satu hal penting yang kerap terlewat: pendidikan agama.
Tidak semua SD Negeri memiliki guru Pendidikan Agama Islam. Keterbatasan sumber daya membuat pelajaran agama sering berjalan seadanya. Di beberapa sekolah, siswa muslim tidak terbiasa menjawab salam. Bahkan ada anak kelas 6 SD yang belum mengenal huruf hijaiyah. Dalam kondisi terpaksa, guru non-muslim mengajarkan pelajaran agama Islam hanya berbekal buku dan LKS—tanpa pendampingan yang memadai.
Di sinilah DSM memilih untuk hadir.
Sejak tahun 2017, DSM memfasilitasi Program Guru Pendidikan Agama Islam di sejumlah SD Negeri. Saat ini, 10 guru PAI dibiayai dari dana zakat, infak, dan sedekah untuk mendampingi lebih dari 200 siswa muslim. Perlahan, perubahan mulai terasa—anak-anak belajar adab, mengenal huruf hijaiyah, membalas salam, dan memahami nilai kebaikan sejak dini.
Tahun 2026, ikhtiar ini akan diperluas. DSM menargetkan penyediaan 20 guru PAI untuk membantu lebih banyak SD Negeri membimbing siswa muslim agar tumbuh dengan karakter yang luhur, beradab, dan tetap menjunjung tinggi nilai toleransi.
Mari bersama melangkah dalam kebaikan.
Dukung hadirnya guru PAI, agar pendidikan agama tetap hidup di ruang-ruang kelas negeri, dan masa depan anak-anak kita tumbuh dengan iman, adab, dan akhlak mulia.


